11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

by Kadek Sonia Piscayanti
0 comment

11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah
(Kolaborasi)
Kadek Sonia Piscayanti

Link youtube project ini dapat diunduh di

Latar Belakang

Beberapa waktu lalu, di Bali, seorang ibu membunuh 3 orang anaknya lalu bunuh diri!
https://www.jawapos.com/baliexpress/read/2018/02/21/51224/ngakunya-mau-ngajar-malah-ke-rumah-bajang-lalu-bunuh-tiga-anaknya
Saya mencerna ini dengan hati-hati. Saya perempuan, saya ibu. Tentu saya bersimpati pada sang ibu. Pertanyaannya: mengapa ini semua terjadi, dan mengapa hal ini bisa terjadi, mengapa tak ada yang cukup sensitif mencegah ini terjadi, kemana saja keluarganya, mengapa ibu ini sendiri, dan ribuan pertanyaan lainnya.
Sebagai perempuan dan ibu, saya merasa sakit, menyayangkan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Terlebih sebagai perempuan Bali, saya makin sedih, mengapa kasus ini hingga separah ini, di lingkungan sekitarnya tak ada yang menolong perempuan ini ketika dia terhimpit masalah. Saya juga sangat kaget dan terpuruk mengetahui bahwa seorang ibu yang juga seorang guru ini berani membunuh anak sendiri, bahkan tak lagi ingat dengan hukum karma, dan Tuhannya. Saya tidak menghakiminya, justru ingin berada bersama perempuan itu, ingin mendukungnya di bawah tekanan social media bullying yang menerpanya. Tak ada sesuatu yang terjadi dengan tiba-tiba, semua pasti ada alasannya. Apapun itu, korban nyawa sia sia telah jatuh, tak dapat dibayar dengan apapun juga. Saya ingin bergerak langsung.
Saya ingin menciptakan jejaring “perempuan mendengar perempuan”. Jejaring ini ingin saya bentuk dan saya kembangkan di masyarakat, agar perempuan memiliki “teman yang dapat memahaminya”. Di tengah tekanan berbagai persoalan, perempuan terhimpit banyak isu. Ekonomi, kesehatan, sosial, budaya, politik, hingga keamanan. Saya sebagai perempuan Bali dan seorang ibu menyadari bahwa peran perempuan sangat kompleks sehingga ia harus cerdas membagi peran dan tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, dan terutama terhadap dirinya sendiri. Yang terpenting pula, ia harus menemukan siapa dirinya, apa tujuan hidupnya dan apa bentuk eksistensinya sebagai perempuan. Jika hal ini diabaikan, perempuan akan terpuruk, terjatuh dan merasa putus asa.
Untuk itulah saya ingin membuat project kolaborasi “11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah” ini. Project ini adalah kolaborasi yang mewadahi dialog antar perempuan. Dialog didahului dengan mendengar dan merasa. Lalu bersimpati, lalu mendukung. Project ini adalah gerakan kesadaran perempuan bahwa suara mereka layak didengar dan diapresiasi. Bahwa perjuangan mereka layak dihargai. Selama ini perempuan sering berjuang dalam sunyi, menghadapi masalah dalam sunyi, dan frustrasi. Saya ingin mendengar mereka, memberikan mereka panggung bercerita. Bukan untuk mencari sensasi, tapi untuk berbagi. Jadi konsep kolaborasi ini konsep bekerja bersama dalam membuat pementasan dengan teater monolog dengan pendekatan realis, dimana panggung adalah realitas yang mereka jalani, dan mereka bermain sebagai aktor monolog sekaligus sebagai karakter diri sendiri, menjadi juru cerita (story teller) dalam bingkai cerita yang mereka pilih sendiri dari perjalanan hidup mereka sendiri. Sebagai penulis naskah dan sutradara, saya akan menuliskan kisah mereka kembali dalam konteks estetika naskah teater dan mengarahkan mereka dalam konteks estetika panggung, yang sesungguhnya adalah panggung mereka sehari-hari. Mengapa dalam bentuk teater? Sebab mereka adalah sesungguhnya aktor teater yang orisinal di kehidupan sehari-hari. Teater memberi jalan agar suara mereka lebih terdengar dan lebih bisa dirasakan langsung oleh audiens. Konsep kolaborasi akan dijalankan dengan cara melibatkan 11 perempuan ini dalam dialog yang saling melengkapi, mereka bukan hanya aktor di dalam panggungnya sendiri, namun juga kru di panggung mereka dan panggung perempuan lainnya.
Mereka adalah 11 Ibu yang tangguh, yang menghadapi hidup dengan berani, seberapa kuatnya cobaan menerpa. Mereka bukanlah ibu-ibu gemerlap, ibu-ibu sosialita, bukan pula seniman yang profesional yang selalu berada di bawah sorot lampu gemerlap. Mereka ibu-ibu sederhana yang lahir dan tumbuh bersama keluarga, berjuang untuk keluarga dan bertahan. Mereka pejuang hidup sesungguhnya dan tak peran mereka layak disebut pahlawan keluarga.
Peran pahlawan dalam hidup mereka tidak sederhana. Kadang mereka berperan sebagai ayah dan ibu sekaligus, menjadi guru, motivator, konselor, pembuat keputusan, sekaligus pelaksana keputusan. Peran-peran ini seperti sebuah peran dalam teater. Oleh sebab itu, kisah mereka akan dipanggungkan, kisah mereka akan digarap untuk menggugah perempuan-perempuan lainnya untuk berani berjuang hidup.
Isu yang Diangkat
Isu yang diangkat dalam project ini perempuan sebagai pelita hidup yang terus menyala. Benang merah isu perempuan disini adalah isu perjuangan, tantangan, harapan dan kebangkitan perempuan dalam hal domestik, sosial, budaya, dan ekonomi. Kisah ini akan dibagikan melalui panggung teater yang membidik berbagai perspektif aspek kehidupan, berdasarkan kisah 11 perempuan yang diangkat. 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah ini membidik isu perempuan secara jujur dari berbagai perspektif dan latar belakang.

Karakter dalam Project
Karakter yang diambil adalah 11 Ibu yang menjadi pahlawan keluarga. Profil mereka satu persatu adalah sebagai berikut.

1. Watik (buruh bangunan). Watik adalah perantau dari Jawa yang bekerja di Bali demi sesuap nasi. Ia punya seorang ibu, dua anak dan satu cucu. Ia menikah dua kali, pernikahan pertama berakhir ketika suaminya meninggal, pernikahan kedua berakhir dengan perceraian. Ia mengaku hidup sangat sulit sebagai janda yang hanya lulusan SD, dengan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal bagi anak-anaknya dan sebagai anak yang bertanggung jawab pada ibunya (bapaknya meninggal). Ia mengambil pekerjaan “keras” karena baginya pekerjaan halus hanya untuk yang pintar dan punya ijasah. Demi menyambung hidup, ia merantau ke Bali sebagai tukang bangunan. Dengan tekad hidup yang tinggi, ia berjuang keras membiayai hidup keluarganya. Meski bekerja keras, ia juga tak pelit berbagi dengan tetangganya jika memiliki beras lebih, ia akan membagi adil beras yang dimilikinya karena ia tahu memberi bagi yang memerlukan adalah bentuk syukur.

2. Dra. Desak Putu Astini (guru Bahasa Inggris). Ibu Desak adalah seorang janda dengan empat orang anak dan satu cucu dari dua kali pernikahan yang gagal. Pernikahan pertama melahirkan dua anak, pernikahan kedua melahirkan dua anak. Anak sulungnya perempuan, seorang sarjana dan guru Bahasa Inggris pula, adalah seorang penulis puisi, pemain teater yang handal, dan sangat cerdas, kini sudah menikah. Anak keduanya adalah laki-laki yang pemalu, kini sudah hampir sarjana. Dua anak lainnya, perempuan, masih usia sekolah SMP dan SD. Ibu Desak berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, tanpa rasa takut dan cemas akan hidup. Ia awalnya sangat risih dengan predikat janda, namun kini bisa membuktikan bahwa anak-anaknya sukses, dan ia makin mapan secara ekonomi, bisa membeli rumah dan kebun. Ia bukan perempuan pengeluh, tapi pekerja tangguh. Kini ia bertekad menyekolahkan anak-anaknya yang masih usia SMP dan SD untuk kuliah menggapai gelar sarjana.

3. Dra. Sumarni Astuti (guru dan penulis puisi). Ibu Astuti adalah janda dengan lima orang anak dan empat orang cucu, seorang perempuan yang selalu tenang dan berpikir bahwa menjadi seorang janda bukanlah akhir dari segalanya. Dalam hal ini dia berpendapat seorang janda belum tentu tidak bisa membuat anak-anaknya sukses, semua itu tergantung dari individunya masing-masing. Ia merasakan hidupnya antiklimaks ketika suaminya meninggal, mertuanya meninggal, ipar-iparnya meninggal dalam waktu nyaris berurutan dan berdekatan. Namun ia tegar, ia percaya ia kuat dan tangguh menghadapi hidup. Ia tetap menjadi guru yang baik, kepala sekolah yang baik, ibu dan nenek yang baik. Bahkan ia kemudian menjadi penulis puisi yang baik. Buku kumpulan puisinya Beri Aku Waktu diterbitkan pada tahun 2014 oleh penerbit Mahima Institute Indonesia.

4. Yanti Pusparini alias Diah Mode (desainer fashion). Diah Mode adalah desainer fashion yang belajar secara otodidak dan intuitif. Ia memang sempat kuliah di desain hingga semester 3 namun karena menikah dini ia tak melanjutkan kuliah. Ia akhirnya belajar tanpa guru. Menyadari kemampuannya, ia mulai berani membuka jasa tukang jahit kecil-kecilan. Namun dia tidak pernah berhenti untuk belajar, dia mempelajari banyak hal dengan membaca banyak buku. Ia sempat ambruk saat bercerai dengan suami pertamanya namun ia bangkit dengan menekuni ilmunya dan menciptakan banyak design yang indah yang menghasilkan karya yang luar biasa. Kini di pernikahannya yang kedua, ia menjalani hidup dengan lebih santai dan tanpa target, namun justru namanya meroket ketika desainnya berhasil memukau audiens di sebuah festival. Jalanpun terbuka lebar dan ia merambah festival demi festival. Iapun menjadi salah satu desainer yang diperhitungkan di Bali saat ini.

5. Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A
Prof. Kerti Nitiasih adalah cermin perempuan Bali yang sukses di karir, keluarga dan
masyarakat. Beliau saat ini menjadi guru besar di Fakultas Bahasa dan Seni dan
menduduki posisi tertinggi sebagai Dekan. Beliau tak pernah melupakan kewajiban
sebagai perempuan Bali, mulai dari membereskan pekerjaan rumah tangga,
bermasyarakat dan berkontribusi di bidang pendidikan sebagai dosen. Beliau merupakan wanita yang sangat luar biasa. Baginya, perempuan Bali di masa kini bisa menjadi apapun yang diinginkan dan karena itu harus menata diri dengan karakter dan spiritualitas. Sebab hanya perempuan Bali yang memiliki predikat Luh Luwih dan Luh Luwu, yang berarti kalau kita menjadi seorang wanita yang baik maka kita akan menjadi wanita yang selalu dihargai, sebaliknya jika kita menjadi wanita yang berprilaku tidak baik tentunya kita akan menjadi sampah.

6. Cening Liadi (Seniman tradisional, penggerak komunitas perempuan). Selain sebagai seorang ibu, pegawai negeri dan seniman, Ibu Cening adalah penggerak komunitas perempuan. Ia mendirikan beberapa komunitas sekaligus untuk memberdayakan perempuan di sekitarnya. Ia mendirikan Rumah Yadnya Tri Laksmi, sebuah sanggar tari dan gong untuk perempuan. Ia juga mendirikan koperasi, membuat usaha spa, dan kini sedang merintis komunitas menari rejang, dan yayasan khusus pemberdayaan perempuan. Menurutnya perempuan Bali jangan hanya menunggu kesempatan, namun menciptakan kesempatan untuk berkarya. Perempuan juga hendaknya mampu memahami bagaimana cara mempertahankan tradisi, menggali tradisi sekaligus mengembangkannya. Ia percaya perempuan mampu berkarya bersama sama perempuan lainnya dan semakin banyak komunitas pemberdayaan perempuan, semakin baik.

7. Hermawati (pemilik salon dan lembaga kecantikan). Krya Chanty merupakan sebuah tempat untuk kursus atau pelatihan keterampilan. Disinilah Ibu Herma memandang bahwa perempuan harus berbagi keterampilan yang dimilikinya. Lembaganya mendidik, mengajar perempuan skill di bidang kecantikan, tata busana dan juga kuliner. Ia berbagi apa saja yang diketahuinya. Dia memiliki motivasi hidup yaitu “ Uang bukanlah hal yang terpenting, namun berbagi pengetahuan adalah yang terpenting”. Dia merupakan wanita keturunan Thionghoa (China) yang menikah dengan laki-laki Bali. Banyak tantangan yang ia lewati dalam keluarga seperti perbedaan budaya, agama dan konsep hidup namun ia lambat laun menemukan kesamaan dalam perbedaan budaya itu bahwa konsep berbagi hal yang bersifat kebaikan apalagi pengetahuan sangat dianjurkan dalam semua agama. Ia memulai lembaganya dari nol. Ia berjuang mengajar perempuan di sekitarnya untuk berdaya saing dan bisa memiliki skill yang membantu perekonomian keluarga. Kini ia menjadi salah satu rujukan bagi perempuan lain yang ingin mendirikan lembaga, sebab ia sudah menjadi asesor sertifikasi lembaga kecantikan. Ia merasa sangat bahagia bisa membagikan ilmunya dengan lebih banyak perempuan.

8. Erna Dewi (pembaca tarot). Ibu Erna adalah ibu rumah tangga yang sekaligus adalah pembaca tarot. Sebelum menjadi pembaca tarot, Ibu Erna adalah seorang agen asuransi yang sukses. Namun ketika suaminya pindah rumah ke kota kecil untuk memulai usaha baru, ia berhenti bekerja. Ia mengorbankan pekerjaannya dan memulai dari nol. Ia sempat bingung, akan menjadi apa, sebab ia merasa tak memiliki skill yang spesifik. Namun seiring waktu, ada semacam panggilan spiritual yang membuat dia menjadi seorang yang memiliki kemampuan lebih. Ia dikaruniai skill spiritual dan indra keenam yang tajam. Dengan spirit berbagi yang tinggi, ia memilih dan menjadikan media tarot sebagai penolong. Jasanya mulai dikenal ketika teman dekatnya percaya dan membuktikan pembacaannya. Teman bertemu teman lain, dan akhirnya ia dikenal luas sebagai pembaca tarot yang mumpuni. Ibu Erna mengatakan bahwa wanita harus kuat dan sadar bahwa hidup itu tidak boleh mengeluh dan menyerah.

9. Rahayu Ujianti, M.Psi (Psikolog). Ibu Rahayu adalah seorang ibu, orangtua tunggal bagi dua anaknya, seorang dosen, psikolog dan penulis buku. Bukunya berjudul Single Mom’s Diary sudah banyak menginspirasi perempuan. Menurutnya menjadi single mom adalah menjadi pejuang bagi keluarga dan pejuang untuk bertahan di dalam kehidupan. Ia menyadari bahwa perempuan tak cukup hanya pintar namun juga harus tahu strategi menjalani hidup. Sebagai pendidik dan psikolog, ia menyadari bahwa perempuan harus bisa berbagi cinta kasih dengan yang memerlukan, menjadikan hidup sebagai pembelajaran, dan mensyukuri hidup yang memberi banyak tantangan. Ia kini aktif menjadi relawan di Sumba Timur, menggalang donasi untuk pengadaan perahu bagi siswa-siswa di Sumba Timur yang tak memiliki akses transportasi yang baik ke sekolah. Ketika ditanya motivasinya melakukan itu, ia mengandaikan jika anak-anaknya seperti itu, mengorbankan nyawa hanya untuk ke sekolah, ia akan melakukan apapun yang bisa dilakukan. Kini seluruh penjualan bukunya ia donasikan untuk pengadaan perahu di Sumba Timur. Meskipun sedikit, ia puas, bahwa berbagi untuk yang memerlukan adalah kontribusi nyata perempuan.

10. Ketut Sukardi (pembantu rumah tangga). Ibu Sukardi adalah pejuang wanita yang tangguh di balik semua keterbatasannya. Ia adalah seorang tuna rungu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia pernah mengenyam sebuah pernikahan dan bercerai karena suaminya seorang peminum dan tidak bertanggung jawab. Motivasinya untuk terus berjuang adalah untuk tetap hidup dan membiayai dua anaknya agar tetap bisa bersekolah dan menjadi sukses.

11. Dr. Tini Wahyuni (seniman). Ibu Tini Wahyuni adalah seorang dokter namun telah lama menanggalkan statusnya sebagai dokter. Kini ia adalah seorang pelukis yang karya-karyanya banyak bicara tentang perempuan, kesunyian dan harapan. Ia memiliki tujuan berbagi melalui karya lukisnya yang tenang dan sunyi sebagai cermin dirinya yang juga tenang dan sunyi. Ia memiliki seorang anak dari pernikahan pertamanya yang kini telah menjadi pramugari sukses. Ia sempat menikah lagi, lalu bercerai lagi karena perbedaan konsep hidup. Kini ia hidup menyepi bersama lukisannya, piano tuanya dan seekor anjing, di rumahnya yang luas dan sunyi. Ia merasa tak kurang suatu apapun, sebab ia selalu berusaha menjaga dirinya tetap tenang, stabil dan bahagia. Penyakit di rahimnya menyebabkan ia tak lagi punya rahim, namun ia tak merasa kurang sebagai perempuan. Bahkan kini ia berteman dengan banyak perempuan muda yang ingin belajar konsep hidup sunyi dan damai darinya.
Tujuan Project
Tujuan project teater “11 Ibu 11 Panggung dan 11 Kisah” ini adalah:
1. Membuat teater sebagai sebuah gerakan mendengar perempuan
2. Menciptakan komunitas yang mendengar dan menghargai suara perempuan
3. Mendukung perempuan dari segala lintas disiplin untuk berkarya di bidang masing-masing secara berkelanjutan
4. Memberi penguatan-penguatan positif terhadap perempuan di sekitarnya
5. Membentuk komunitas “perempuan mendengar perempuan” berupa lingkaran solid yang saling menguatkan
6. Menjadi basis komunitas perempuan berani bersuara dan berkarya
Dampak Project
Dampak yang diharapkan adalah
1. Menginspirasi perempuan lain untuk bersuara dan berkarya
2. Perempuan mendukung perempuan di dekatnya untuk berani bersuara dan berkarya
3. Perempuan lebih percaya diri dalam berkarya
4. Perempuan lebih punya banyak wawasan dan jaringan
5. Tercipta jejaring kuat yang mendengar dan mendukung perempuan
6. Tercipta society awareness yang kuat tentang perempuan dan berkesinambungan

Metode Project Kolaborasi
Metode project ini adalah pementasan teater 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah yang akan menampilkan 11 Monolog Realis.
Metodenya adalah kolaborasi antara saya sendiri sebagai penulis naskah dan sutradara dengan 11 karakter Ibu yang terpilih, lalu di antara kami semua saling membantu sebagai koordinator kru mewujudkan 11 pentas tersebut. Misalnya kebutuhan setting panggung bisa dikoordinatori oleh Ibu Watik (buruh bangunan) didampingi tim artistik panggung. Kebutuhan kostum panggung bisa dikoordinatori oleh Diah Mode (desainer fashion) dan tim artistik kostum. Kebutuhan make-up bisa dikoordinatori oleh Ibu Hermawati (pemilik salon) dan tim make-up artist. Kebutuhan latihan dan persiapan aktor pementasan selain saya sendiri yang mengarahkan, bisa dibantu oleh Ibu Astuti dan Ibu Rahayu (mantan aktor). Sedangkan musik dan artistik visual bisa dikoordinatori oleh Ibu Tini Wahyuni (pelukis dan pemusik). Tim publikasi bisa dikoordinatori oleh Ibu Erna Dewi yang punya basis massa yang besar di sosial media. Sementara yang lain bisa membantu tim tersebut. Secara umum, semua pekerjaan bisa dilakukan bersama-sama sehingga project ini ringan dan mungkin dilakukan dalam waktu yang ditentukan.
Jadwal Project
Jika memungkinkan dan proposal ini dibiayai, seluruh pementasan akan digelar di Bulan November hingga Desember 2018, serangkaian hari Ibu.
No Jadwal Kegiatan Keterangan
1 Mei 2018 Persiapan awal
– Penyamaan persepsi
– Crew Training
– Pre-production
– Promosi
– Budgeting fitting Seluruh kru ditraining tentang tanggung jawab di project, diberi pengetahuan awal dan tanggung jawab
2 Juni – Juli 2018 – Latihan dan eksplorasi naskah, pengenalan keaktoran, pengenalan panggung
– Dokumentasi kegiatan Semua aktor dan kru
3 Agustus – September 2018 – Latihan intensif
– Diskusi komprehensif dengan beberapa ahli tentang pemanggungan
– Dokumentasi kegiatan Semua aktor dan kru
4 Oktober 2018 – Publikasi di media besar cetak dan online
– Gladi bersih semua pementasan Tim publikasi, semua aktor dan kru
5 November – Desember 2018 – Pementasan
– Diskusi
– Publikasi dan dokumentasi semua output
Semua tim, aktor, kru
6 Januari 2018 – Evaluasi
– Feedback
– Rencana ke depan Indikator kesuksesan dievaluasi, mendengar pendapat audiens, dan merencanakan program lanjutan
Output project
1. Pementasan 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah
2. Film dokumenter tentang proses pemanggungan, pemanggungan dan setelah pemanggungan
3. Katalog pementasan
4. Buku tentang proses kreatif di balik proses pemanggungan, pemanggungan dan setelah pemanggungan.
5. Tulisan di media massa cetak dan online
6. Inisiatif awal berdirinya jejaring Komunitas perempuan mendengar perempuan

Tim Produksi
Penulis naskah dan Sutradara : Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd.,M.Pd.
Pemain
1. Watik
2. Dra. Desak Putu Astini
3. Dra. Sumarni Astuti
4. Yanti Pusparini (Diah Mode)
5. Prof. Dr.Putu Kerti Nitiasih, M.A
6. Cening Liadi
7. Hermawati
8. Erna Dewi
9. Putu Rahayu Ujianti, M.Psi.
10. Ketut Sukardi
11. dr. Tini Wahyuni
Kru Reading dan Training Persiapan
1. Kadek Sonia Piscayanti
2. Dra Sumarni Astuti
3. Rahayu Ujianti, M.Psi.
Kru Artistik (Stage, Sound, and Lighting)
4. Watik
5. dr. Tini Wahyuni
6. Wayan Sumahardika
7. Gede Gita Wiastra
8. I Gede Yoga Permana
Kru Kostum dan Make Up
1. Yanti Pusparini (Diah Mode)
2. Hermawati
Kru Publikasi
1. I Made Adnyana
2. Erna Dewi

Kru Dokumentasi
1. Kardian Narayana
2. Nata Kusuma
3. Purnama Sari
4. Eka Prasetya
Kru Administrasi Produksi
1. Cleo Sintya Rosa Dewi
2. Sri Warmadewi
Kru Evaluasi dan Sosialisasi
1. Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A
2. Cening Liadi

You may also like

Leave a Comment