catatan 11 tahun Putu Putik Padi

by Kadek Sonia Piscayanti
0 comment

Catatan ini saya buat untuk merekam ingatan tentang Putik Padi.

11 Catatan Saya

  1. Putik Padi lahir dengan berat 3.01 kg dan panjang 51 cm. Dia lahir di RS Ibu dan Anak, Puri Bunda, Denpasar, 28 November 2007. Dokter yang menanganinya adalah Dokter Doster Mahayasa.  https://www.puribunda.com/dr-putu-doster-mahayasa-spog.html. Beliau adalah dokter yang ramah, supportive, dan menyenangkan. Sejak kehamilan awal trimester hingga akhir, beliau rutin mengecek dan mengevaluasi perkembangan Putik. Ohya beliau juga ternyata berasal dari Buleleng, sehingga kami cepat akrab. Dengan pantauan dokter yang baik, saya merasa kehamilan Putik aman dan sehat. Sempat deg-degan juga sebenarnya, karena pengalaman pertama dan rasanya tidak percaya diri. Saya membaca banyak sekali buku kehamilan, artikel, blog, apapun, yang membuat saya sedikit overwhelmed. Namun saya juga tidak bisa menahan diri untuk tidak membaca. Saya rakus melahap hampir semua buku kehamilan, persiapan melahirkan dll. Namun, sepertinya saya tidak pernah siap. Trimester satu dan dua terlewati, hingga akhirnya tiba di trimester ketiga. Nervous nambah level. Saya rajin konsultasi, rajin berdoa, rajin menenangkan diri. Karena mendekati perkiraan HPL. Malam itu, 27 November 2007, saya berjalan-jalan di sebuah taman kota di Denpasar.  Bersama suami, tentunya. Saking semangatnya, empat kali putaran saya mengelilingi taman kota itu. Setiba di rumah ipar (saat itu saya bekerja di Jimbaran, seminggu mendekati perkiraan, menumpang di rumah ipar agar dekat dengan RS), saya istirahat karena kelelahan. Sekira pukul 03.00 dini hari saya merasa celana basah, dan bukan basah karena kencing. Saya ambil buku panduan melahirkan, mencocokkan. Ciri-ciri air ketuban.  Pas. Saya ke kamar mandi, mengecek, memang bukan kencing, memang air ketuban sesuai ciri-ciri di panduan. Saya mencoba tidak panik. Saya atur pikiran. Mengenang pelajaran dari buku, tidak boleh panik. Satu jam dua jam saya tenang. Kembali mencoba tidur, beberapa waktu kemudian terasa air ketuban kembali keluar. Saya bangunkan suami, saya ingin dia mengantar saya ke RS. Hari itu, 28 November 2018, sekira pukul 05.00 pagi kami berangkat ke RS. Tiba di RS, kami mendapat pelayanan baik. Bukaan saya diperiksa. Belum ada bukaan. Namun karena ketuban sudah keluar, saya diminta menunggu. Perut saya mulai sakit. Sudah masuk siang. Bukaan pertama. Lama sekali rasanya. Bukaan kedua. Menjelang sore diperiksa lagi. Baru bukaan ketiga. Lambat sekali. Hampir sebelas jam menunggu, tidak ada kemajuan bukaan, tim dokter memutuskan harus segera diambil tindakan sectio agar bayi selamat. Mengingat detak jantung bayi melemah, dan air ketuban juga hampir habis. Saya pasrah. Suami menenangkan saya. Mengingatkan berdoa. Perasaan saya campur aduk. Takut sudah pasti. Tak ada pilihan lain. Yang saya baca, operasi sesar resikonya tinggi. Saya merasa kematian dekat sekali. Saya sempat berpikir kalau saya mati, saya rela, asal bayi saya hidup sehat. Di ruang operasi, selain karena faktor gugup dll, saya merasa ruangan itu dingin sekali. AC nya memang disetel rendah suhunya, plus saya yang belum pernah berada di situasi menegangkan itu, jadilah saya menggigil sambil berdoa. Satu persatu dokter memperkenalkan diri. Mengatakan bahwa mereka akan menjalankan prosedur operasi. Entah kenapa saya tak peduli. Saya fokus pada diri sendiri dan bayi saya. Tim dokter mencoba membuat rileks namun gagal. Suntikan pertama untuk membius saya gagal membuat saya tak sadar. Kewaspadaan saya sangat tinggi. Suntikan kedua juga masih gagal. Saya tetap sadar. Lalu sebuah suntikan di tulang belakang yang membuat saya mati rasa. Saya tak ingat apa-apa lagi. Sampai diberitahu kemudian, Putik lahir sehat dan lengkap, normal dan tidak ada keluhan. Saya sendiri, diisolasi di ruang pemulihan pasca operasi. Saya lemah sekali dan terus muntah muntah akibat reaksi bius. Saya tidak bisa menyusui Putik. Padahal saya tahu bahwa air susu pertama sangat penting bagi bayi. Saya sangat ingin menyusui Putik namun tidak bisa. Menjelang dini hari baru saya pindah kamar. Itupun juga masih lemah. Saya disarankan banyak tidur. Pagi harinya 29 November 2007 barulah saya boleh memeluk Putik untuk pertama kalinya, saya menangis. Putik mendekap saya. Hangat sekali. Saya diijinkan menyusuinya. Saya belajar. Putik pelan-pelan merabai puting saya dengan lidahnya. Tak butuh lama, dia langsung bisa menyusu. Dan hari berikutnya semakin lancar. Putik makin pintar. Saya merasa aman. Demikianlah hubungan kami secara alami langsung diberkati semesta.
  2.  Tiga hari di RS, kami pulang dan tinggal sementara di Kampung Ole di Tabanan. Saat itu cuaca mendung. November identik dengan hujan. Dan Tabanan adalah tempat yang memiliki kecenderungan hujan yang cukup kuat. Memang rasanya sejuk, hujan mendekap bayi di kamar. Namun sulit sekali mencari matahari saat itu, sehingga Putik mungkin kurang cahaya matahari, sehingga di hari ketujuh dia lahir, saya merasa kulitnya terlalu kuning. Saya panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Kami mengecek di lab, dan saat itu Putik masih sangat lemah, disuntik untuk dicari sampel darahnya. Saya seperti merasa hati saya yang ditusuk, melihat Putik menangis menatap kami yang tak bisa berbuat apa. Dia seperti minta tolong, namun demi kebaikan, semua dilakukan sesuai prosedur kesehatan. Darahnya dicek, lalu kami menunggu hasil lab. Cukup lama. Kami tidak pulang lagi. Karena sesuai hasil tes, bilirubinnya cukup tinggi, harus segera diopname. Saya langsung mencari kamar. Menguatkan diri sendiri, menahan sakit pasca operasi, dan sakit melihat anak sakit, usia Putik baru seminggu saat itu. Kami mendapat kamar, dan esoknya Putik langsung harus mendapat treatment  fototerapi. Dia harus diinfus. Ini membuat saya sakit lagi. Melihat Putik sekecil itu diinfus, saya merasa kenapa harus dia, kenapa bayi sekecil itu harus ditusuk tusuk. Saya pasrah dan sedih. Fototerapi dilakukan terpisah dari ruangan kami awalnya, jadi Putik diambil, lalu dibawa ke ruang fototerapi, lalu dikembalikan ke kamar. Tak sanggup rasanya menahan sedih melihat prosedur ini. Putik harus telanjang, hanya memakai pampers, ditutup matanya, lalu diterapi dengan sinar biru. Awalnya saya mencoba tenang. Tapi tak kuasa menangis juga. Esoknya saya minta alat terapi dibawa ke kamar dan diterapi di kamar. Saat diterapi Putik kadang menangis kadang gelisah, karena sinarnya panas dan kuat. Saat menangis, saya mengambilnya lalu menyusuinya lalu menaruhnya kembali. Ada hitungan jam yang harus dipenuhi. Yang jelas tidak boleh sering sering diambil, agar terapi sinar birunya efektif. Setiap hari kondisi bilirubinnya dicek. Akhirnya setelah melampaui 4 hari, bilirubinnya mulai normal. Kami diijinkan pulang. Lega. Saya tidak mau lagi mengingat kesedihan melihat Putik diinfus dan difototerapi.
  3. Singkat cerita Putik  merayakan ultah pertama. Kami sudah di Singaraja. Saya sudah mengajar di kampus. Ingat betul saat itu, saya merayakannya di rumah di kawasan perumahan Satelit Singaraja. Kami masih mengontrak rumah saat itu. Putik sehat dan bahagia sekali. Dia sudah bisa diajak berkomunikasi. Kata-katanya lancar. Sejak awal saya sudah memperkenalkan video Barney ke Putik. Dia hafal gerakan tari Barney. Dia hafal lagunya. Saat itu dia masih belajar berjalan.  Saat ultah pertama, saya mengingat saat itu mengundang saudara, tetangga dan beberapa mahasiswa. Putik tertawa-tawa. Hadiah kado banyak sekali. Hampir memenuhi satu kamar.  Putik suka membuka buka kado. Dia banyak mendapat hadiah boneka dan mainan.
  4. Memasuki usia kedua, Putik semakin lancar bicara. Dia mengoceh terus. Hobinya menyanyi Barney, dan juga lagu-lagu anak yang berisi unsur tari seperti Hi-5. Dia cepat menguasai bahasa. Mulai kelihatan bakat berbahasanya. Dia juga sudah mengenal huruf-huruf, suka corat-coret, suka menggambar, suka memegang pensil. Dia juga sudah bisa berbahasa Inggris meski belum lancar.
  5. Ulang tahun ke-3 Putik kami merayakan di Yayasan Anak. Yayasan Anak adalah yayasan sosial yang memberi beasiswa bagi penduduk tak mampu di wilayah Buleleng. Perayaan yang meriah karena begitu banyak anak-anak yayasan yang diundang. Putik menyumbang buku dari koleksi perpustakaan kami. Yayasan anak menerima dengan suka cita. Saya juga berbagi dengan cara mendogeng. Beberapa anggota komunitas Mahima yang ikut menyumbang acara menampilkan musikalisasi puisi dan membaca puisi.
  6. Memasuki usia ketiga setengah tahun, Putik saya sekolahkan di sekolah national plus berbahasa Inggris. Di kelas toddler, atau play group. Orang tua saya protes, kenapa kecil-kecil sudah disekolahkan, katanya. Saya menegaskan bahwa Putik perlu teman bermain. Jadi sekolahnya hanya bermain-main saja. Orang tua sayapun mengalah. Putik sulit sekolah awalnya. Dua minggu lebih, menangis minta ditunggu. Saya tidak tega. Sementara teman yang lain sudah ditinggal, saya masih menunggui Putik. Giliran dengan Ibu saya, kadang saya menjaganya, kadang Ibu saya. Kurang lebih sebulan hingga akhirnya benar-benar bisa lepas. Dia mulai mengenal teman dan lingkungan. Nama sahabat kecilnya adalah Ditri. Ditri disebut-sebutnya selalu. Ah, rupanya memiliki sahabat menjadikannya lebih semangat ke sekolah.
  7. Usia 4 dan 5 Putik masih di sekolah yang sama, menjalani TK A dan B. Kemampuan bahasa Inggrisnya semakin bagus. Dan di acara perpisahan atau pelepasan siswa TK, Putik terpilih menjadi siswi berbakat. Putik menampilkan puisi Bahasa Inggris untuk gurunya.  Temanya terimakasih kepada guru yang membinanya menjadi siswa yang baik selama menempuh pendidikan TK. Saya bangga pada Putik dan merekam pembacaan puisinya.
  8. Memasuki usia 6, dia sekolah di SD Lab Undiksha. Berpisah dari Ditri, sahabatnya 3 tahun di playgroup dan TK, membuatnya sedih. Putik juga sedih berpisah dengan teman-teman lainnya seperti Gendis, Figo, Angel, dan lain-lain. Saya mencoba menghibur bahwa perpisahan  hanya sementara saja, kemungkinan bertemu masih sangat besar. Beruntungnya di SD Lab, Putik masih bisa menemui teman-teman TKnya yang juga bersekolah disana, seperti Anggi, Giyan, dan Kanya. Putik belajar menerima. Hingga akhirnya dia menemukan sahabat barunya, Sinsin. Sinsin lebih muda setahun dari Putik. Putik merasa punya adik sekaligus sahabat baru. Di kelas 1, Putik sudah fasih sekali berbahasa Inggris, dia mengikuti lomba bercerita Bahasa Inggris yang lawannya kelas 4 sampai kelas 6. Dia satu-satunya kelas 1. Mungkin gurunya hanya coba-coba. Namun ternyata tidak. Putik berlatih serius. Menghafal naskah yang lumayan panjang. Saya juga ngeri. Naskahnya lumayan berat. Bukan Putik yang deg-degan, malah saya yang kelimpungan ga karuan. Akhirnya lomba tiba. Nomor Putik disebut. Dia melangkah tenang. Ceritanya mengalir lancar dari awal sampai akhir. Semua terkesima. Apalagi saya. Duh. Doa saya semoga Putik pentas lancar terkabul. Putik bahagia mementaskan naskah yang terbaik versi yang bisa dilakukannya. Tentu masih ada yang belum sempurna. Putik belum memakai panggung dengan sempurna. Saya merasa dia ditelan oleh panggung saking kecilnya. Namun saya tak berkecil hati. Saat pengumuman, ternyata Putik meraih juara harapan 1. Semua juri mengucapkan selamat. Sangat berbakat, komen mereka.
  9. Memasuki usia 7, Putik punya adik. Bernama Kayu Hujan. Dia adalah lelaki imut-imut yang sangat lucu. Putik menyambutnya dengan bahagia. Dia menjadi kakak yang baik. Di usia 8, Putik semakin terasah kemampuan bahasanya. Dia sudah membaca buku-buku cerita berbahasa Inggris. Saat saya ke Ubud Writers and Readers Festival, Putik dapat jatah beli buku berbahasa Inggris yang banyak. Dia suka ke Smile Shop dan Ganesha Bookshop. Disana banyak buku-buku bagus. Salah satu penulis favorit Putik adalah Catherine Wilson. Dia mengkoleksi novel-novelnya berjilid jilid.
  10. Memasuki usia 9-10, Ayahnya menghadiahi Putik gadget. Saya kurang sepakat. Namun Ayahnya bersikeras. Saya cenderung keras namun Ayahnya lebih keras lagi. Jadilah Putik memiliki gadget. Dari gadget kemudian Putik tahu banyak hal lagi seperti pengetahuan membuat komik, belajar bahasa lain selain Inggris, misalnya bahasa Jepang, Korea, juga Mandarin. Dia cepat menyerap lagu-lagu Korea. Menggemari Korea. Bermimpi ke Korea.
  11. Memasuki usia 11, Putik mendapat menstruasi pertama. Dia sangat nervous. Namun bagi saya itu sangat normal. Sehat. Meski demikian, saya juga berkonsultasi dengan dokter. Sempat Putik sakit perut dan mengeluh. Saya bawa konsul ke dokter. Di praktik dokter, semua pasien memandang aneh, ketika saya katakan yang akan diperiksa adalah Putik. Mata mereka menghakimi. Saya ditanya apa keluhannya. Saya cuma ingin memastikan Putik baik baik saja, dan konsul. Keras keras saya jawab, sehingga semua pasien ibu hamil mendengar. Akhirnya kami dapat giliran. Dokter yang saya kenal karena menolong persalinan Kayu Hujan tersenyum melihat saya. Saya jelaskan maksud saya memeriksakan Putik. Putik disapa ramah. Disuruh berbaring dan di USG, ternyata semua aman. Wajar keluhan sakit karena mestruasi pertama. Demikianlah secara resmi Putik sudah memasuki usia remaja.

You may also like

Leave a Comment