Kujahit Nasib di Mozaik Mimpi

by Kadek Sonia Piscayanti
0 comment

Pernahkah kau bayangkan sebuah jubah berwarna kuning yang besar dan megah melayang di atas tubuhmu? Atau kain besar berwarna merah melintang di dadamu, lalu laut biru menjuntai memenuhi tubuhmu.

Aku pernah. Aku pernah bermimpi membuat jubah jubah besar yang bisa menengggelamkan aku di dalamnya. Aku sudah tak mau lagi menjadi diriku. Aku mau menyulap diriku, tenggelam di balik jubah saja. Aku ingin menyulap apa saja menjadi apapun yang kuinginkan. Aku membuat jubah keinginan. Aku ingin menyulap orang jelek menjadi cantik. Aku bisa menyulap orang gendut menjadi kurus. Membuat orang hitam menjadi terang, aku bisa.

Aku bisa menyembunyikan siapa mereka sesungguhnya.

Aku bisa membuat tubuh yang sedih menjadi bahagia. Dari semua potongan kain-kainku.

Aku menjahit mozaik-mozaik mimpi mereka. Seperti aku.

Siapa aku. Aku hanya tukang jahit kisah dari kain-kain yang berbicara ini. Mereka katakan padaku, Hey Yanti, potong aku disini. Potong aku disana. Hentikan aku disini. Hentikan aku disana. Aku mau bercerita. Ikuti serat kainku. Ikuti alur bungaku. Ikuti daunku yang meliuk ke tepi kain ini. Ikuti garis di tengah kain ini. Jangan lipat aku disana. Jangan lipat aku disini.

Aku ini cerita. Jangan kau potong sembarangan. Aku ini dongeng, ceritakan aku dengan sempurna.

Aku ini kisah yang terbuang. Aku ini kain sia sia. Bukan sisa-sisa tapi sia sia.

Aku mendengar itu semua. Aku jahit mimpi mereka di atas mimpiku lalu kujahit mimpi itu di atas pemilik baju. Semua pemilik baju akan bertanya apakah dia terlihat cantik. Tentu, tentu saja mereka cantik dengan jubah-jubah ajaibku. Lekuk tubuh mereka akan tercetak sempurna. Meskipun yang tak punya lekuk, aku bisa buatkan lekuk untuk menyamarkan lemak mereka. Hidup tak sekadar untuk dilihat namun dinikmati. Hidup bukan sekadar lewat, namun harus memberi arti. Meskipun sebutan kasarnya aku tukang jahit, namun kini aku bisa memaknai diriku lebih dari itu, aku penjahit mozaik mimpi di atas kain-kainku. Aku menggoreskan nasibku, menjahit nasibku, menawar nasibku, semua di atas meja kerja dan mesin jahitku.

Aku suka menggambar impianku di atas kertas, semua mengikuti imajinasiku. Aku tahu hidup terlalu sulit, terlalu rumit dan kadang membuatku melilit pailit, tapi aku tetap gagah menggambar imajinasiku.

Berkali kali aku jatuh atau dijatuhkan, berkali kali aku gagal atau digagalkan, aku bangkit lagi. Selama mata, tangan dan kepalaku masih bisa berjalan, aku tetap akan menjahit imajinasiku. Aku tahu bukan perkara mudah memenuhi impian sesuai imajinasiku. Aku tak sekolah menjahit, tak sekolah desain, tak sekolah manajemen, aku cuma sekolah di rumahku sendiri. Belajar dari siapa saja, terutama dari imajinasiku sendiri. Suatu saat aku pernah dilecut oleh seseorang yang tak ingin kusebut namanya, ia menyindirku, carilah ijasah, bekerjalah di kantor, kerja apa saja! Aku tersentak! Bekerja di kantor? Dengan imajinasi dan bakatku seperti ini?

Aku marah sekali, pensil kucoret coretkan di atas kertas, koran-koran kugunting menjadi pola, kain-kain kugunting dengan sempurna. Kuikuti alurnya dengan jiwa. Kain iapa yang aku jahit kini dan nanti. Untuk apa aku memiliki apa yang kumiliki saat ini.

Aku gila, gila biarlah aku gila menjadi diriku sendiri. Aku tak mau kerja di kantor. Aku tak mau terbelenggu. Aku mau menjadi bebas.

Kain-kain memanggilku, hai Yanti, potong aku, ubah nasibku, pertemukan aku dengan  perempuan-perempuan yang ingin mengubah nasibnya, menyembunyikan dirinya, membuat dirinya bahagia. Aku mendengar mereka dan menjadikan mereka bagian dari tanggung jawabku. Aku melepaskan nasib mereka seperti aku melepaskan nasibku pada mereka.

Nasibku ada di tangan mereka, dan nasib mereka ada di tanganku. Kami saling menyembunyikan, atau saling menolong, atau saling membebaskan. Kulepas mereka pada saatnya. Kulepas mereka pada yang menginginkan mereka. Begitulah aku membebaskan mereka.

Ceritaku bukan lah cerita sederhana, aku hanya bercerita pada kain-kainku saja karena nasib kami sama. Aku merasa seperti dilukisi, dipotong dan dirakit lalu dijahit untuk mencipta cerita baru. Kain-kain ini kadang tak saling kenal dengan benang, kancing dan pengait. Mereka datang dari lembah yang berbeda, namun bersatu mewujudkan keindahan baru. Mereka seperti aku, aku kadang tak mengenal diriku sendiri, aku berkaca pada orang lain, cerita orang lain, ternyata mereka bukanlah aku. Aku cari lagi dimana aku, kutemukan kadang diriku sembunyi di balik baju yang kubuat. Ketika baju itu jadi, aku merasa melihat diriku. Setiap inci dari baju-baju itu aku melihat diriku.

Ada tanganku disana, ada sidik jariku disana, ada keinginan dan impianku disana. Aku merasa hidup kembali. Aku merasa menjadi manusia baru sejak aku melahirkan desain baru, baju baru dan semua yang baru aku ciptakan. Aku seperti bukan diriku, aku seperti bukan aku yang sedih mengingat masa lalu, namun menjadi aku yang bebas, menjadi aku yang bahagia.

Sering aku mengingat cerita masa lalu yang sulit, ketika aku takut, suka menyerah dan selalu kalah, sering aku mengingat saat aku sakit, marah dan bingung. Namun setelah melihat baju-baju yang hidup ini, aku sperti dihidupkan lagi.

Bolehkah aku menjadi diriku sendiri melalui baju-baju ini, bolehkah aku punya suara sendiri melalui jahitan mimpi-mimpiku ini, bolehkah aku membebaskan diriku sendiri yang pernah terpotong dan tercabik-cabik ini?

Bolehkah aku sembunyi, lalu keluar lagi dengan senyum bahagia. Aku tak munafik. Berkali-kali aku gagal dicintai dan mencintai, aku tak peduli lagi. Dunia ini hanya persinggahan sementara. Tubuh ini sementara, semua kesombongan hanya sementara. Namun cerita mimpi-mimpi yang kujahit di atas kain-kain ini, yang kelak melekat di tubuhku, atau tubuhmu, atau tubuh kita semua, bukan hanya cerita biasa. Ialah yang akan menutupi kekuranganmu, menyembunyikan masa lalumu, dan menjadi bagian masa depanmu.

Aku menjahitkan mu, sejubah, serangkai ceritaku yang abadi.

Dengarlah aku, resapilah aku, masukilah aku.

Nikmati ceritaku.

 

 

You may also like

Leave a Comment