KUMAINKAN KARTUMU IBU, KUJUMPAI KAU DI LORONG WAKTU

by Kadek Sonia Piscayanti
0 comment

KUMAINKAN KARTUMU, IBU

KUJUMPAI KAU DI LORONG WAKTU

Naskah Kadek Sonia Piscayanti

(Project 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah)

 

Aku bernama Erna Dewi. Aku lahir dari perempuan yang kuat, tegar dan terhormat. Cantik, lembut dan penuh kasih. Ia adalah ibu yang mengajarkanku segala rasa, pahit, manis, getir, asam, dan asin kehidupan. Ibu adalah temanku yang pertama. Ibu adalah guruku yang pertama, pembimbingku dan penyelamatku.

Ibu melahirkanku dalam keadaan sakit. Ia menderita. Bukan karena aku, tapi karena ayahku. Ayahku adalah sosok yang keras. Ia menghianati ibuku, berkali-kali. Ibuku sakit hati berkali-kali, namun selalu bangkit berkali-kali. Ibu tak marah pada ayahku. Ia marah padaku.

Ia marah aku tak suka makan. Ia marah aku turun ranking. Ia marah aku tak seperti Donna, adikku. Ia marah karena perlu marah. Tapi ia tak marah pada Ayahku, ia marah padaku.

Ia perlu marah padaku. Aku anak pertama, aku harus kuat. Aku harus makan, tapi aku tak mau. Ia memaksaku, aku tak mau. Ia marah sekali. Aku dikuncinya di kamar mandi, aku kedinginan, aku takut, aku merasa kesepian. Tak ada yang menolongku. Aku sedih dan marah. Pada siapa. Aku hanya anak kecil, yang tak bisa membebaskan diri sendiri. Ibu marah padaku. Aku menangis. Menangis dan tak ada hentinya. Tak seorang pun menolongku. Hingga aku lelah. Pintu terbuka, entah siapa yang membuka, mungkin Tuhan. Mungkin. Setelah itu Tuhan seperti mengancamku, aku dipaksaNya makan, lalu aku makan secepatnya, sehingga aku tak bisa lagi mencerna apakah makanan itu berasa atau tidak, aku makan hingga tak tahu apakah makanan itu akan masuk ke perutku. Ia seperti tercekat di tenggorokan dan menghilang disana, lalu muncul perasaan sedikit terburu ingin menghabiskan disana, semua tercekat di tenggorokan dan menghilang disana. Namun laparku tiada sirna juga. Aku makan tapi aku tetap lapar.

Aku lapar Ibu, aku lapar. Aku lapar dan tak mau lagi kau siksa. Aku makan karena kau marah padaku. Kenapa? Bolehkah aku tahu kenapa kau marah padaku. Kenapa?

Soal Ayah? Akupun marah padanya. Akupun tahu, siapapun yang tahu ayah akan marah padanya. Semua orang normal akan marah padanya.

Suatu kali, ia mengajakku bekerja. Ia supir truk yang membawa barang dagangan dari Jawa ke Bali. Aku duduk di sampingnya. Melelahkan. Jawa-Bali ditempuh belasan jam pulang pergi. Aku tidur. Ngantuk. Anak kecil yang lelah, kuncinya hanya tidur. Belum beberapa lama lelapku, tiba-tiba truk berhenti. Di sebuah tempat yang gelap dan samar, aku tak yakin apakah itu hutan atau rumah, sawah atau kebun, Ayahku berhenti. Dia turun. Aku tegang. Ada apa. Kemana ayah, kenapa ditinggalkannya aku sendiri?

Tapi Ayah tak lama berhenti. Ia naik lagi. Tapi tidak sendiri. Ia datang bersama perempuan muda. Bukan ibu, bukan hantu. Tapi perempuan asli. Cantik. Ia naik, dan aku disuruh ayah tidur lagi. Tapi sebelumnya aku dibisiki, jangan bilang ibu. Akupun setuju. Aku masih terlalu muda untuk mengerti. Setiba di Bali, perempuan itu disembunyikan Ayah di rumah temanku, Bella. Dia mengancamku, jangan bilang siapa-siapa. Aku setuju. Tapi aku ragu, lalu setengah linglung, kuberitahu Ibu soal perempuan itu. Ia menanyaiku, siapa perempuan itu? Aku jawab tak tahu. Aku hanya tahu ia sembunyi di rumah temanku. Dicarilah ia disana. Dan Ayahku disana. Perang terjadi. Aku lari entah kemana.

Namun esoknya, semua baik-baik saja. Seperti tak terjadi apa-apa.

Aku dewasa bersama Ayah dan Ibu. Mereka selalu bersamaku dalam kekacauan yang terjadi sepanjang ingatanku. Sepanjang usiaku, kutahu Ayah selalu menghianati Ibu, Ibu selalu tahu dan selalu memaafkannya. Sebetulnya terbuat dari apa hati ibu? Aku belum sempat menanyakannya. Tak sekalipun ia menunjukkan dendam pada Ayah. Ia seperti terbuat dari batu karang. Keras dan tegar.

Tak sekali dua kali ia mempertahankan keluarga. Ia jatuh bangun membangun keluarga yang seolah dibangunnya sendiri. Ia tak didukung oleh Ayah. Malah berkali-kali ditelikung. Tapi ia tetap tegar, terbuat dari apa kau ibu. Kenapa kau tak tinggalkan kami. Kau bisa saja membangun keluarga dengan yang lain. Parasmu ayu, muda, dan masih memiliki semangat yang kuat. Untuk apa kau disini?

Mungkin untukku dan Donna, mungkin. Tapi aku pernah melihatmu putus asa, kau mengancam pergi, meski tak pernah pergi. Kau mengancam pergi dan membawa Donna, bukan aku. Aku bolehkah bertanya, mengapa kau pilih Donna? Mengapa bukan aku ibu? Apa salahku sehingga tak terpilih olehmu?

Karena Donna cantik? Putih? Pintar? Mau makan?

Tak kau pilih aku karena aku suka melaporkan Bapak yang selingkuh? Harusnya tak kulaporkan biar hatimu tak sedih? Harusnya aku makan supaya kuat? Harusnya aku putih dan cantik seperti Donna?

Ibu, maafkan aku, terlalu banyak bertanya padamu. Justru saat kau tak ada lagi. Apakah kamu tahu isi hatiku? Ya kau pernah membaca isi hatiku di diary yang kutulis berpuluh tahun lalu. Soal aku cemburu pada Donna. Kau menghiburku, kau bilang sayang padaku, kau bilang ingin aku kuat.

Kau lihat sekarang, aku kuat. Aku sudah kuat.

Dan aku benci menjadi kuat! Semua gara-gara ibu. Gara-gara ibu aku kuat.

Padahal sungguh aku tak kuat. Tapi setiap aku tak kuat, aku kuat lagi. Setiap aku menyerah, tiba-tiba kau hidup lagi.

Kau ini ibu, selalu ada buatku. Kupikir sudah selesai semuanya, tapi tidak. Tidak ibu. Tidak ada selesai bagimu. Kau selalu kuat. Bahkan hingga kini.

Saat hidupku hampir ke titik nol, krisis diriku hampir di titik nol, pernikahanku hampir hancur total, kau hadir lagi.

Seperti udara, kau ada dimana mana. Seperti angin, kau selalu meniup semangatku. Seperti api, kau selalu membakarku, ibu. Seperti tanah, kau melindungiku dari gempuran bertubi-tubi.

Seperti selimut, kau menghangatkanmu. Meskipun kadang aku membencimu, aku sesungguhnya sangat merindukanmu.

Lalu ibu, aku sekarang belajar berdamai dengan waktu. Semua sudah pernah terjadi padaku ibu. Kau tahu semuanya. Kau melihatku jatuh bangun. Kini aku berdamai. Berdamai dengan waktu. Aku ditemani kartu-kartu.

Kartu-kartu memanggilku dengan nama ibu. Ibu, ibu, bacalah aku. Bacalah aku. Lalu kubacakan ibu, buatmu, buatku, buat siapa saja di seluruh dunia. Kartu-kartu membantuku menjadi ibu, menjadi kekasih waktu. Aku lama-lama bisa mengubur diriku, dengan kisah dari kartu kartu. Aku bukan aku, aku adalah kartu yang kumainkan dan kubacakan. Seluruh waktuku kupersembahkan kepada pemilik semesta, dan kartu kartu ini menjagaku.

Sekarang aku menjadi pembaca kartu yang sudah dikenal. Aku diberi kepercayaan. Aku diberi kekuatan, aku diberi jalan. Kadang sempit, terjal, kadang juga lapang. Aku tahu, hidupku hanyalah aku dan kartu kartu. Suatu kali kubacakan kartu untuk seorang istri pencemburu. Lain kali kubacakan kartu sang suami yang pencemburu. Mereka berdua sama-sama memainkan kartu dan aku di tengah-tengah. Nasib mereka berputar-putar di atas kepalaku. Aku tahu. Sesuatu yang baik akan datang. Mereka tak perlu cemburu. Aku memutar kartu. Cahaya  kebaikan datang.

Kartu-kartu membawaku ke lorong masa lalu, yang berliku, yang panjang, dan purba. Aku kadang terbang ke ribuan tahun lalu, menjumpai kisah-kisah yang menakjubkan dari pertanyaan pertanyaan manusia, siapa aku. Aku menemukan mereka ibu, mereka bukanlah mereka yang sekarang. Mereka adalah misteri reinkarnasi yang mengalami perjuangan di masing-masing kehidupan. Mereka mungkin seperti aku, mencari tahu mengapa ada disini, dan mengapa harus ada disini.

Sepanjang lorong waktu, matamu menyertaiku ibu. Aku menyaksikanmu di lorong itu. Kita bertemu namun tak saling memeluk. Mungkin perjalananmu sudah jauh ibu. Tanganmu tak lagi bisa menyentuhku. Tapi hatiku telah terpaut. Di sepanjang waktu…

(Naskah ini akan menjadi naskah pementasan pertama dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah)

You may also like

Leave a Comment