Perceraian dalam Rangka Menyelamatkan Kematian

by Kadek Sonia Piscayanti
1 comment

Kisah Pertama

 

Seorang Ibu berkisah, “Saya bercerai dalam rangka menyelamatkan kematian saya.”

Saya diam. Sang ibu melanjutkan, “Bayangkan, saya sudah tua, dia sudah tua, kami tak punya anak, tak punya harta, tak punya usaha, tak punya apapun lagi, dan kami sama-sama sakit. Keluarganya membenci saya. Tak ada lagi yang bisa menahan saya. Jika ingin mempermudah kematian, maka kami harus bercerai. Jika saya mati, saya diurus keluarga, dia juga diurus keluarganya.”

Terkadang perceraian hanya sesederhana menyelamatkan kematian masing-masing. Sang Ibu melanjutkan, perceraian menjadi indah, jika alasannya tepat dan kedua pihak menyadari mengapa itu harus terjadi. Ia berkisah perceraiannya terjadi begitu mulus, dengan biaya murah, dengan tiga kali sidang yang damai sentosa. Mereka datang berdua, dengan satu sepeda motor yang sama, berboncengan, dan melaporkan perceraian. Begitu pula ketika sidang, mereka datang seperti tak terjadi apa-apa. Tak ada gugat menggugat. Tak ada tuding menuding. Hemat energi dan hemat biaya.

Perceraian yang menginspirasi.

Ibu ibu yang lain menyimak. Mengagumi perceraian idaman. Beberapa dari mereka ada yang pernah bercerai, akan bercerai dan belum pernah berpikir bercerai.

Apakah ada yang berkeinginan bercerai dalam damai? Mungkin tanya pada Sang Ibu.

(Singaraja, 17 Mei 2017. 9:02 PM)

You may also like

1 comment

Avatar
Pk. Nitiasih May 18, 2018 - 8:38 am

Wah baru the beginning saja sdh bagus. Luar biasa onya. Ibu kagum padamu

Reply

Leave a Comment